BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

8.12.2009

selamat :)

hey, udah lama gue nggak nge blog, post terakhir gue tentang gambar semua..
hehe maklum lah yang baru punya pen tablet. huahahaha mimpi gue soalnya, jadi maklum kalo gue pamer dikit. dikitt aja.
well, apa yang mau gue ceritain ya, mungkin pengalaman gue.
pengalaman apa?
semuanya lah, tapi gue nganggep blog itu konsumsi umum, jadi bakalan banyak yang di sensor. haha memang gue terlalu misterius.

um, let's talk about coffee.
kopi untuk sebagian orang mungkin bukan kebutuhan, tapi merupakan sebuah gaya hidup. pernah gue ngeliat suatu joke yang nyindir dan itu ngena banget di the simpsons. gue termasuk penggemar the simpsons. itu tentang suatu mall yang hampir semua toko didalemnya digantikan sama toko kopi yang pasti kita semua tau.
well, kalau kita butuh, gak mungkin banyak banyak dong?
lo butuh makanan, lo cuma butuh seperlunya, ya sampe lo kenyang dan puas. tapi kalau gaya hidup lo tentang makanan, maka lo akan dan harus mencoba semua makanan.
itu persepsi gue tentang joke dalem ala the simpsons.

dan gue juga ngerasain gitu sekarang disini..
mari lupakan bagian kopinya, tapi yang bagian kebutuhan serta gaya hidup.
kita pasti udah tau, kita terpengaruh sama gaya hedonis. yang berfoya-foya, sok kaya. jujur gue muak, tapi gue gak akan pernah bisa lepas dari itu semua. sebagian temen gue aja kayak gitu. tanpa perlu dilabelisasi, gue tau. kita semua tau, gak usah sok polos lah.
disini gue gak pengen menyinggung siapa siapa kok.
terus, siapa yang salah atas kebudayaan kita yang berubah?
orang yang ngebawa kebudayaan itu atau kita?
well, i know this is a cliche, ini membosankan sebagai bahan debat. gak kayak debat di tv yang berhasil menyita banyak perhatian orang yang haus akan cercaan makhluk politik berjas macam pejabat itu.

karena gue ngerasa ini cuma monolog, omong besar.
omongan orang yang cuma bisa mengamati sebagian politik, itupun politik yang udah bercampur baur sama apa saja yang menyentuhnya. jadi bukan politik lagi. mungkin namanyha sudah menjadi sub-politik.

mari renungkan, meskipun itu cuma secangkir kopi, kenapa gue merembet sampe hal yang berat kayak gini?
salah siapa, gue atau lo?
selamat berenang di tengah keabsurdan otak gue.

0 komentar: